anamost

Saturday, December 10, 2005

Rektorat, Mahasiswa dan Serba-serbinya

Barangkali tepat jika kita menganalogikan hubungan antara rektorat ini dan mahasiswa dengan hubungan antara pengusaha dan buruh. Apalagi begitu banyak kontroversi yang terjadi di kampus ini beberapa bulan terakhir. Sekali buruh salah, PHK dengan murah akan diberikan, tetapi kalau kerja bagus, sanjungan seolah seperti barang mahal. Seperti halnya buruh dan pengusaha, yang ada hanyalah ikatan ‘kontrak’ kerja, antara penyelenggara pendidikan dan peserta didik. Mahasiswa salah, ya diskors atau diambil hak belajarnya secara permanen dengan DO. Tidak ada terminologi guru murid, apalagi ayah anak.

Buruh tidak boleh macam-macam, karena jika kerjanya tidak becus saja, ada mandor yang siap menindak, dengan kuasanya. Mungkin mahasiswa juga harus hati-hati, karena kerja mahasiswa adalah belajar, belajar, dan belajar. Kalau buruh punya prestasi kerja, maka mahasiswa juga punya IPK. Itulah ukuran satu-satunya untuk menilai bagaimana kinerja mahasiswa. Tidak peduli berapa besar investasi sosial yang ditanamkan oleh mahasiswa yang bersangkutan, atau berapa banyak manfaat yang telah dirasakan oleh lingkungan kemahasiswaannya. Walhasil, tidak ada toleransi bagi mereka yang tidak mampu mengikuti kompetisi.

Mungkin sangat jarang buruh mendapat kesempatan bercengkerama atau sekedar mengakrabkan diri dengan pengusaha, karena hirarki yang dibangun pengusaha terhadap buruh terlalu jauh. Seolah pengusaha itu untouchable. Atau bahkan untuk sekedar rekreasi keluarga buruh, bisa jadi tidak ada dalam list program pengusaha, karena hanya buang-buang uang dan sia-sia. Acara keakraban antar mahasiswa juga bisa jadi tidak menjadi program rektorat, tetapi lebih didasarkan pada inisiatif dari mahasiswa itu sendiri. Padahal bisa kita bayangkan, betapa besar manfaat yang bisa diambil dari sekedar interaksi sosial seperti itu. Dalam pikiran pengusaha, hal-hal semacam itu, tidak ada hubungannya dengan pencapaian prestasi kerja, Sama halnya dengan rektorat, bisa jadi kegiatan-kegiatan seperti itu, dirasa tidak berkorelasi positif terhadap pencapaian prestasi akademik, bahkan justru mengganggu. Yah, semoga saja salah.

Pengusaha boleh saja bicara tentang good corporate governance, peningkatan laba usaha, efisiensi waktu, dana dan sebagainya. Tetapi terkadang pengusaha lupa membangun modal sosial yang sangat mempengaruhi lingkungan kerja. Modal yang tidak didapat dari job training, atau seminar, tetapi dari intensitas pergaulan atau interaksi antar buruh. Lingkungan terdekat mahasiswa, adalah mahasiswa lain. Interaksi yang intens di antara mereka adalah modal sosial yang tidak boleh semena-mena diabaikan. Diabaikan kita sendiri saja tidak boleh, apalagi oleh orang lain.

Semakin intens interaksi tersebut terjadi, maka akan muncul kebutuhan akan menciptakan komunitas sosial, agar interaksi yang terjadi lebih efektif. Perlu diingat, adalah hak bagi setiap mahasiswa, untuk membentuk komunitas-komunitas sesuai keinginan masing-masing dalam membantu pencapaian cita-cita dan proses pendidikan. Jika komunitas--yang dalam hal ini organisasi mahasiswa--sudah ada, maka adalah hak setiap mahasiswa pula untuk ikut atau tidak ikut menjadi anggota organisasi tersebut, karena mahasiswa itu sendirilah—dan bukan orang lain--yang memahami pilihan yang menurutnya paling baik untuk mendukung pencapaian cita-citanya. Institut—sebagai lembaga pendidikan—tidak berhak mengambil peran itu secara penuh dari mahasiswa, tetapi berkewajiban membantu serta memfasilitasi keinginan dan pilihan mahasiswa tersebut dengan melihat kemampuan institut. Bukankah perguruan tinggi bertujuan …

Rektorat memang berhak mengatur dan mengeluarkan kebijakan dalam rangka menjalankan proses pendidikan, tetapi bukan berarti mengambil wilayah-wilayah pribadi mahasiswa selaku insan dewasa. Mahasiswa bukan hanya milik institut ini, meski mahasiswa melakukan proses belajar di sini. Ini bukan berarti tidak taat hukum institut, tapi berbeda dengan produk pabrikan manufaktur yang bisa seenaknya dibentuk jadi produk bagus dan marketable, tetapi mahasiswa juga manusia ;) yang punya rasa punya hati, dan akan berontak jika hak-haknya untuk mengembangkan diri di institut ini, terabaikan. Bukan begitu, kawan?

Namun, jika boleh kembali pada analogi pengusaha buruh, buruh seringkali diidentikkan dengan unjuk rasa, perlawanan dsb. Tidak jarang tuntutan kenaikan gaji, pesangon, THR dsb menyulitkan pengusaha yang harus berhitung, agar perusahaannya juga tidak bangkrut. Begitu pula mahasiswa. Lihatlah kawan, bahwa apa yang diinginkan institut ini hanyalah agar kita menjunjung tinggi nilai-nilai universal dalam masyarakat. Pembangunan kompetensi dan karakter diri! Tidak ada yang salah kan dengan cita-cita institut menjadikan sosok mahaiswa ITB menjadi sosok mahasiswa Indonesia ? Bukankah itu juga yang kita inginkan? Menjadi trendsetter bagi negeri ini ? Sampai kapan kita harus jadi agen-agen budaya primitif yang sudah tidak relevan lagi? Sampai kapan kita akan jadi agen-agen budaya Western yang bisa jadi tidak cocok dengan nilai-nilai masyarakat kita ?

Sepertinya kita juga perlu berbenah diri, karena kondisi kita tidak seputih yang kita kira. Masih banyak lubang-lubang yang harus kita tambal, kawan. Bukan rahasia lagi jika ITB terkenal dengan tawuran wisudanya, atau sebagian kecil OSHimp yang masih mengandung sisi-sisi fisik tanpa argumen. Cukuplah sudah beberapa kasus yang menghiasi lembar sejarah kemahasiswaan kita. Cukuplah sudah persepsi negatif masyarakat tentang kegiatan yang bahkan namanya jauh dari kekerasan, Orientasi Studi ini. Sudahi saja tradisi-tradisi yang kita ambil mentah-mentah, tanpa tahu esensi sebenarnya kita melakukannya.

Kita adalah kita jaman sekarang. Kita adalah pemimpin-pemimpin kemahasiswaan jaman ini. Mahasiswa ITB adalah mahasiswa paling cerdas di bumi Indonesia (semoga!), mahasiswa yang tidak boleh menyerah dengan kemampuan otaknya, untuk kreatif, mengeluarkan ide-ide brilian, bahkan ide gila sekalipun, untuk membuat sebuah sistem baru dalam kemahasiswawan ini. Kaderisasi, Wisudaan, atau apapun. Enak atau tidak enak, kemahasiswaan ini adalah milik kita, dan kitalah yang berhak menentukan arah dan aktivitas kita. Otoriarianisme rektorat tidak berarti apa-apa jika kita sudah memegang teguh prinsip kemahasiswaan kita sendiri. Dengan segala kebijaksanaan yang kita punya, tidak perlu 1000 SK bukan, untuk membuat kita menyikapi dan merubah diri ?

Untuk kawan-kawan mahasiswa angkatan 2005, maaf jika semua ini yang menyambut kalian, tapi percayalah bahwa apa yang akan kalian alami dalam aktivitas kemahasiswaan ini, ditambah dengan apa yang kalian dapat di ruang kelas, adalah kombinasi dahsyat yang tidak akan kalian sesalkan dalam perjalanan hidup kalian. Jangan pasang harga mati dulu, sebelum tahu. Tapi juga semua pilihan itu ada di tangan kalian. Selamat bersenang-senang di kampus ini!

Muhammad Syaiful Anam
Presiden Keluarga Mahasiswa

0 Comments:

Post a Comment

<< Home